Selasa, 12 Maret 2013

Rangkuman Buku Sejarah Sastra Indonesia


Rangkuman Buku Sejarah Sastra Indonesia
Oleh : Ajip Rosidi

v  Masalah Angkatan Dan Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia
Dalam majalah horizon tahun I no. 2, agustus 1996, halaman 36-41, H.B Jassin mengumumkan tulisanya yg berjudul “Angkatan 66, Bangkitnya satu Generasi”
            Sekitar tahun 1949 masyarakat sastra indonesia ramai ber polemik tentang “ Angkatan 45.” Beberapa tahun kemudian timbul pula masalah “ Angkatan sesudah Chairul Anwar “ yang dikenal juga dengan nama “ Angkatan Terbaru “.
            Angkatan yaitu terjemahan dari ‘generatie’ adalah masalah yang seharusnya erat bertalian dan timbul dalam sejarah sastra, terutama dalam masalah pembabakan waktu atau periode sejarah sastra. Jadi sebenarnya merupakan masalah para penelaah sastra, lebih tepat lagi: para penelaah sejarah sastra. Sedangkan kita yang paling banyak bicara tentang masalah tersebut adalah para pengarang yang sendiri aktif terlibat. Pengarang yang terlibat menghadapi persoalan itu niscaya tidak bisa berdiri objektif, melainkan akan berbicara atas landasan – landasan yang erat bertalian dengan pengakuan atas dirinya sebagai pengarang
            Timbul pwrtikaian antara kaum muda dan kaum tua yang berbeda 15 atau 15 tahun dalam usia. Dan kalaupun pertikaian uti tidak ada, berdasarkan penggolongan administrasi saja, sukarlah akan memasukan generasi tahun 1966 dalam satu kontak dengan generasi 20 tahun sebelumnya.
            Dalam tulisanya itu Jassin memberikan ciri – ciri angkatan 66 yaitu antara lain
a)      Konsepsinya Pancasila
b)      Membawa kesadaran murni manusia yang bertahun – tahun mengalami kezaliman dan perkosaan terhadap kebenarab dan rasa keadilan, kesadaran moral dan agama khas pada hasil – hasil kesusastraan 66 ialah protes sosial dan kemudian protes politik.
c)      Yang masuk angkatan 66 ialah: Mereka yang tatkala tahun 1945 berumur 25 tahun.
Persoalan ‘angkatan’ tak kunjung selesai, karena dua belah pihak itu saling berdialog tanpa menyadari bahwa kata – kata dan istilah yang mereka pergunakan meskipun sama bunyi dan ejaanya tetapi lain kandungan artinya.
Sebagai wakil dari golongan yang pertama yang subjektif ialah Pramoedy Ananta Toer yang pernah mengemukakan pendapat dalam esainya yang berjudul ‘ Tentang Angkatan’ yang ditulisnya tahun 1952. Menurutnya angkatan ialah suatu golongan yang diikat oleh ‘ satu ikatan jiwa, kesatuan semangat dalam rangkuman tempat, masa dan lingkungan yang sama.
Sebagai wakil dari golongan kedua yang objektif ialah apa yang dikemukakan oleh Rachmat Djoko Pradopo yang dalam tulisanya yang mengutip Rene Wellek berkata bahwa ‘ angkatan ‘ dalam sastra ialah “ suatu bagian waktu yang dibatasi oleh suatu sistem norma – norma yang tersangkut dalam proses sejarah itu dan tak dapat dipisahkan darinya “.
Keseluruhan Sastra Indonesia tetap dapat dibagi atas dua bagian:
                               I.            SASTRA MELAYU LAMA
                            II.            SASTRA INDONESIA MODERN
Sastra Indonesia Modern dapat kita bagi sejarahnya atas dua masa, yakni:
                               I.            Masa Kebangkitan ( Kurang lebih 1920-1945 )
                            II.            Masa Perkembangan ( 1945-sekarang )
Masa Kebangkitan terdiri atas 3 periode :
1.      Periode ‘20
2.      Periode ‘33
3.      Periode ‘42
Sedangkan masa perkembangan dibagi atas periode :
1.      Periode ‘45
2.      Periode ‘50
Seluruh sejarah sastra indonesia dapat dibagi dalam periodisasi sebagai berikut:
                               I.            Bagian Pertama: Masa Kelahiran atau Masa Kebangkitan ( awal abad XX sampai tahun 1945 )
                            II.            Bagian Kedua: Masa Perkembangan ( sejak 1945 hingga kini )
Yang kemudian dapat dibagi – bagi dalam perio – period lagi, yaitu:
                               I.            Masa Kelahiran menjadi:
1.      Period awal – 1933;
2.      Period 1933 – 1942;
3.      Period 1942 – 1945;
                            II.            Masa Perkembangan menjadi:
1.      Period 1945 – 1953;
2.      Period 1953 – 1961;
3.      Period 1961 – sekarang

Pada period awal ( 1933 ) karya sastra yang lahir mempunyai ciri – ciri yang khas: Persoalan – persoalan adat yang sedang menghadapi alkulturasi dan dengan demikian menimbulkan berbagai problema bagi kelangsungan eksistensi masing – masing.
Pada period kedua ( 1933 – 1942 ) yang menjadi problem pokok adalah ditengah pertarungan kebudayaan timur dan kebudayaan barat dalam kacamata romantis – idealitis.
Pada period ( 1942 – 1945 ) yaitu zaman pendukung jepang, karya karya sastra d zaman jepang yaitu: Sastra peralihan dan pelarian, penuh kegelisahan.
Pada period ( 1945- 1953 ) adalah period perjuangan dan pernyataan diri di tengan – tengah dunia karena kemerdekaan yang di proklamasikan menuntut tanggung jawab.
Pada period ( 1953- 1961 ) realitas kehidupan bangsa yang baru merdeka, yang mencoba meng isinya dengan berbagai kemungkinan, dimana impian tinggi masa revolusi menghadapi kaum penjajah memberikan kepahitan demi kepahitan.
Pada period ( 1961- 1966 ) adalah period perlawanan dalam memperjuangkan dan mempertahankan martabat serta kemerdekaan pribadi manusia.

v  Menempatkan Chairul Anwar pada Proporsinya
Beberapa masalah yang timbul:
            Chairil Anwar adalah sastrawan Indonesia yang paling banyak diperingati hari wafatnya. Chairil Anwar adalah sastrawan Indonesia yang paling banyak di bahas atau di bicarkan, dipuji, dipersengketakan dan di caci. Chairil Anwar sebagai penganut kebebasan seni adalah tokoh yang paling banyak di caci para petinggi lekra menaruh perhatian untuk menyingkirkan Chairil dari dunia satra indonesia
Perananya Dalam Sejarah Sastra Indonesia:
            Chairil disebut sebagai pelopor ‘angkatan’45’ dan jasa – jasanya disebut dalam pembaruan puisi Indonesia. Seperti yang diketahui Chairil  lahir munculah dengan sajak – sajaknya pada zaman pendudukan Jepang. Beberapa sajaknya di muat dalam penerbitan – penerbitan resmi pemerintah masa itu,
Tugu yang Hendak di Hancurkan:
            Pada masa menjelang gestapu, ketika suasana mereka anggap sudah cukup matang untuk melakukan coup d’etat, maka dalam bidang kebudayaan mereka menghantam dan menghancurkan setiap faham dan orang yang menurut fikiranya tidak sefaham dengan mereka. Maka chairil Anwar yang sudah terpancang menjadi tugu dalam kehidupan kesusastraan khususnya dalam kehidupan kesenian kebudayaan Indonesia umumnya mereka hancurkan. Dengan senjata mono poli dan revolusi menghalalkan segala cara mereka menganalisa Chairil habis – habisan, mencapnya sebagai penyair kontra revolusi yang a-nasional.
Chairil Anwar dan Politik:
            Tentang sikap polotk Chairil Anwar kendatipun sitor sendiri mengakui bahwa sajak – sajak Diponegoro dan kepada Bung Karno yang ditulis Chairil justru menjelaskan kemungkinan revolusi sebagai dunianya sastra, namun ia berkesimpulan bahwa Chairil Anwar dengan sadar atau tidak sadar masuk orbit dan perangkap jaringan kontra – revolusi kebudayaan.
            Berikut adalah sajak yang di umumkan atas namanya sendiri:
“Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi tidak bisa teriak “Merdeka”dan angkat senjata lagi”.
            Dan terlebih Chairil menambahkan baris – baris berikut:
“Kenang,kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hata
Menjaga Bung Sjahrir

v  J.E.Tatengkek (1907-1968)
Lahir di Kolongan, Sangihe, tanggal 19 Oktober 1907, dikenal sebagai seorang penyair yang menerbitkan kumpulan sajak Rindu Dendan (1934) isinya merupakan sajak- sajak kerindu-dendaman penyair terhadap yang satu, Tuhan Yang Maha Esa. Ia penyair yang bersunyi-sunyai dan memproklamasikan:
Contoh syairnya:
Di tengah manusia
Aku tersia-sia
Mencari kabar
Yang agak benar


                                                                              (‘Gadis Belukar)


O, Tuhanku
Biarkan aku menjadi embun-Mu
Memancarkan Terang-Mu
Sampai aku hilang lenyap olehnya.......
      Soli Deo Gloria !
                                                                              (‘Rindu dendam : Akhir Kta’)
v  Armijn Pane (1908-1970)
Armijn Pane meninggal dunia !
            Berita tanggal 17 Februari 1970 itu sungguh sukar saya percaya, Armijn Pane meninggal dunia. Armijn Pane terkenal sebagai pengarang roman Belenggu. Kecuali roman ia pun menulis cerpen,sajak,drama,esai dan kritik. Sajak – sajaknya terbit sebelum perang sebagai salah satu nomor khusus majalah Poedjangga Baroe dengan judul Jiwa Berjiwa  (1939 ), sedangkan sajak – sajaknya yang lain di terbitkan sesudah perang dengan judul Gamelan Jiwa (1960). Drama – dramanya dikumpulkan dengan judul Jinak – jinak Merpati (1953) Kisah – kisah pendeknya di kumpulkan dalam buku Kisah Antara Manusia (1952).
v  Segi Lain
Sajak –sajak Taufiq Ismail
            Di tengah rumah
            Sengketa
                        Menetes duka
                        Menetes darah
                        Angin panas
            Awan merah
                        Ya Rosullah.
Nabi Muhammad bagi Taufiq Ismail bukan lah hanya seorang nabi yang hidup berabad-abad yang lampau dalam sejarah dan sekarang di makamkan di Madinah. Bagi Taufiq Muhammad adalah Rosulullah yang “dari sela rimbun daun sejarah.”.......
Sajak Taufiq untuk Muhammad yang sehabis perang Badar.
            Medan yang terlewat
            Dalam gugusan
                        Peristiwa
            Topan mengobar debu
            Pasukan berkuda
            Bukit peperangan
                        Dan langit menghitam
                        Angin mengobar
                                    Debu
            Dalam kerucut langsing
            Batu-batu !
            Bukit
                        Langit
            Dada daun baja
            Telaga turun
                        Di tengah gurun
                        Di tengah gurun.
v  Catatan Tentang Pendidikan Apresiasi Sastra
Kira – kira sekitar tahun 1955 dalam simposium sastra yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Jakarta pernah timbul perbantahan sengit tentang masalah pengajaran sastra di sekolah – sekolah, antara Pramoedya Ananta Toer sebagai sastra wan yang merasa tidak puas dengan hasil guru – guru kita mengajarkan sastra di sekolah – sekolah dengan A.T. Effendy seseorang guru sastra di berbagai SMA ketika itu telah merasa melakukan kewajibanya dengan sebaik – baiknya.
Kesimpulan yang dapat di ambil dari kenyataan yang terjadi:
Yang pertama,bahwa memang kehausan akan bacaan meningkat dalam masyarakat kita sebagai hasil dari adanya pendidikan. Kedua, Kehausan akan bacaan itu dipenuhi oleh majalah – majalah dan bacaan – bacaan hiburan. Ketiga, dalam bidang pengajaran sastra, hasilnya tidak maju, atau bahkan takmustahil mundur.
Baik tentang teori maupun tentang sejarah sastra, keterangan – keterangan yang terdapat dalam buku itu umumnya lebih dapat menyesuaikan ketimbang memberikan pengertian ataupun apresiasi.
v  Laranglah Buku, Jangan Pengarang.
Diantara buku – buku dan pengarang – pengarang yang di sarankan untuk mendapat anugrah itu terdapat Pramoedya Ananta Toer ( buku pasar malam ) ,Uty T. Sontani (Manusia Kota ) dan Sitor Situmorang ( Surat Kertas Hijau ). Ternyata ketiga orang itu tidak mendapat anugrah. Artinya Mentri Mashuri menolak saran panitia tersebut.
Untuk tidak mentebut – nyebut tindakan pemerintah kolonial Belanda sebelum perang dan pemerintah Jepang yang pernah melarang berbagai buku dan penerbitan, kita pun teringat akan larangan yang pernah dikenakan terhadap buku Hoakiau di Indonesia, karangan Pramodya Ananta Toer oleh penguasa perang tertinggi ( peparti ) sekitar tahun 1959. Buku kumpulan sejak Matinya Seorang Petani karya Agam Wispi pernah dilarang pula sekitar tahun 1962.



v  Boen Membahas Atheis
Buku Boen S. Oemarjati yang merupakan sebuah kritik sastra terhadap roman Atheis buah tangan Achdiat K. Mihardja, sebagai rangkaian pertama dari suatu Seri Esai dan Kritik sastra. Yang diterbitkan oleh penerbit Gunung Agung di bawah redaksi H.B. Jassin pula, kegembiraan ini tidaklah hanya karna dengan diberikan kesempatan untuk terbit, tapi terutama karena kritik Boen tentang Atheis menunjukan keberanian penulis muda wanita ini untuk keluar dari kebiasaan dan batas pandang gurunya sendiri yaitu H.B. Jassin. Tidaklah seperti gurunya yang antara sebentar dalam telaah – telaah tentang sastra Indonesia memperingatkan pembacanya bahwa ia sebagai kritikus dan penelaah sastra pasti menggunakan metode ilmiah yang berbeda dengan yang biasa dilakaukan seniman. Oleh Boen metode ilmiah itu tidak disebut – sebut atau dipetuakanya lagi, melainkan dengan kreatif telah digunakanya dalam meneropong hasil sastra Indonesia yang disebutnya’Karya yang besar’ itu.

v  Puisi Indonesia Dalam Masa Duapuluhan
Seorang nama baru dalam dunia penelahan kesusastraan Indonesia, telah memperkenalkan diri dengan sebuah buku hasil penelaahanya mengenai puisi Indonesia tahun duapuluhan. Disebut nama baru karena sebelumnya kita tidak pernah membaca tulisanya baik berupa karangan terlepas dalam majalah – majalah sastra dan budaya Indonesia, apalagi berupa buku.
Nama baru yang dimaksud ialah Fachruddin Ambo Enre dan bukunya berjudul Perkembangan Puisi Indonesia Dalam Masa Duapuluhan yang merupakan salah satu seri Esai dan Kritiksastra Gunung Agung, Djakarta, 1963.

v  Dua Buku Hutagalung
Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis
            Roman Mochtar Lubis yang kedua berjudul Jalan Tak Ada Ujung pada tahun 1952 mendapat hadiah sastra nasional dar Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional. Roman yang berlatar belakangkan revolusi fisik Indonesia itu, mencoba menganalisa dan mengikuti liku jiwa seorang guru bernama Isa yang menjadi pembarani karena ketakutanya tak tertahankan lagi. Mochtar mengungkapkan manusia dengan lekuk liku kejiwaanya yang rumit. Dan umumnya ia berhasil dalam usahanya itu. Karena itu tidak mengherankan kalau romannya itu dianggap sebagai sebuah roman pesikologis yang berhasil.
            Karena tertarik oleh kenyataan – kenyataan dan pengakuan orang terhadap roman tersebut, maka M.S. Hutagalung telah mengambil roman itu sebagai objek skripsi kesusastraan modern guna mencapai gelar sarjana muda sastra Indonesia pada fakultas sastra Universitas Indonesia yang kemudian diterbitkan sebagai buku, merupakan salah satu nomer dalam seri Esai dan Kritiksastra dengan redaksi Drs.H.B. Jassin, berjudul Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis ( Jakarta 1963 )

v  Junus Amir Hamzah Tentang Hamka Sebagai Pengarang Roman
Tokoh Hamka dalam dunia kesusastraan Indonesia adalah seorang tokoh yang paling banyak di hebohkan orang, terutama setalah Abdullah S.P mengajukan bukti – bukti yang mendakwa tenggelamnya kapal v/d Wijck sebagai hasil plagiat.
Buku Junus Amir Hamzah tentang Hamka, yang berjudul Hamka Sebagai Pengarang Roman,sangat menarik hati.Dalam buku itu Amir Hamzah sebagai seorang sarjana sastra Indonesia yang masih muda, membahas peranan Hamka dan sumbangan – sumbanganya terhadap sastra Indonesia. Apalagi setelah membaca dalam kata pengantarnya ia mengeluh bahwa meskipun Hamka sudah banyak di bicarakan orang, namun” belum juga secara keseluruhan”, yang kemudian menyebabkan ia berjanji “ kami ingin melihat Hamka dari sudut yang belum pernah diteropong orang lain “.
v  Lampu Merah Buat Jassin
Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru
H.B. Jassin adalah seorang kritikus dan sarjana sastra yang terkenal tekun dan sebagai salah satu hasil ketekunanya itu, baru – baru ini kita menerima bukunya yang baru berjudul Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (Jakarta, 1962) dalam buku ini di kumpulkan Jassin lah tulisan – tulisan Amir Hamzah almarhum yang semula terserak – serak di berbagai majalah dan penerbitan, yaitu kecuali yang sudah di bukukan. Jadi segala tulisan Amir Hamzah di luar keempat buah bukunya : Nyanyi Sunyi (1937), Buah Rindu (1941), Setanggi Timur (1939) dan sastera melayu lama dan raja – rajanya (1940); meliputi sajak, prosa lirik, prosa dan resensi, baik Sali maupun terjemahan.
            Dengan bukunya tentang Chairil Anwar itu, dalam Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru, Jassin menyertakan suatu daftar karya almarhum secara kronologis, sebuah bibliografia dan didahukui dengan sebuah pengantar.
Kalau Jassin sendiri menandai” Angkatan Pujangga Baru” itu dengan” gemuruh sajak perjuangan ajakan membangkit tenaga” , maka logislah kalau rajanya adalah yang paling keras ajakan perjuanganya, paling tidak yang paling gigih dan paling kuat, dan bukan orang yang justru dikatakan oleh Jassin tidak mempunyai ciri – ciri seperti itu.

v  Jassin Cari Mujtahid Ketemu Gambar Burak
Menurut A. Hassan berdasarkan hadis – hadis yang terkenaan dengan shuroh atau gambar itu sedikitnya ada lima macam golongan, yaitu:
1.      Golongan yang mengharamkan sekalian macam gambar dan patung;
2.      Golongan yang mengharamkan patung – patung, tapi tidak mengharamkan gambar – gambar di atas kain dan semacamnya;
3.      Golongan yang mengharamkan patung – patung dan gambar – gambar yang di jadikan perhiasan, bukan gambar – gambar yang diinjak, di duduki, disandari
4.      Golongan yang mengharamkan patung – patung dan gambar yang lengkap badanya, tapi tidak mengharamkan gambar yang sepotong kepala atau separuh badan;
5.      Ada pula segolongan yang menganggap bahwa gambar dan patung yang di haramkan itu hanyalah yang dimbah orang atau yang di kuatirkan akan dijadikan sesembahan.
v  Potret Yang Samar - samar
Penguasaan penulisan cerita pendek secara teknis akan merupakan dasar – dasar yang baik bagi penguasaan teknis penulisan yang lebih panjang. Salahsatu sifat cerita pendek yang khas yaitu bentuknya yang menuntut penulisanya ekonomis dengan kata dan kalimat adalah dasar – dasar yang baik bagi penulisan roman – sesungguhnya efisiensi ini ciri umum sastra modern yang dengan kata sesedikit mungkin, hendak menjangkau pengertian dan memberikan pelukisan yang seluas – luasnya.
v  Kemerdekaan Individu Menurut Nasjah Djamin
Hilanglah Si Anak Hilang
            Persoalan yang dikemukakan Nasjah Djamin dalam roman yang berjudul Hilanglah Si Anak Hilang (Bukit tinggi – Jakarta, 1963 ) yangditulis tahun 1960, niscaya tidak asing lagi bagi mereka mengiku buah – buah tanganya selama ini. Persoalan kebebasan, kemerdekaan manusia sebagai individu dan hubunganya denagn ikatan – ikatan masyarakat, yang sering kita jumpai dalam cerita – cerita pendek dan drama – dramanya, kita jumpai pula dalam roman ini dalam wujud yang lebih matang dan lebih selesai.
Di Bawah Kaki Pak Dirman
            Kumpulan cerita pendek Nasjah yang kedua berjudul Di bawah kaki pak dirman ( Yogjakarta, 1967 ) memuat delapan buah cerita yang salah satu diantaranya berjudul yang dipilih menjadi judul buku. Pemilihan judul itu bukanlah karena penulisanya menganggap bahwa cerita itulah yang terbaik dalam seluruh kumpulan ( walaupun hal itu tidak mustahil ), namun sebagian besar mungkin di sebabkan oleh karena hampir semua ( tujuh dari delapan ) cerita yang dimuat di dalamnya mengambil tempat kejadianya sepanjang Marioboro di kota Yogjakarta. Seperti diketahui di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyak Yogjakarta yang terletak di jalan Marioboro itu terdapat sebuah patung Jendral Sudirman. Cerita ‘ Di bawah Kaki Pak Dirman ‘ menceritakan pengalaman si-aku pengarang malam – malam terang bulan tiduran terlentang di bawah kaki patung itu.

v  Sejuta Matahari
Motinggo Boesje adalah seorang pengarang yang banya sekali menerbitkan karya – karya berupa buku. Dalam tempo yang pendek, ia telah menerbitkan ntah berapa belas buku berupa kumpulan cerita pendek, roman, derama dan lain – lain. Untuk menyebut beberapa saja: Malam Jahanam (1962) , Batu Serampok (1963), Tidak Menyerah (1962), 1949 (1962), Kebaranian Manusia (1962), Matahari Dalam Kelam (1963), Nyonya Dan Nyonya (1963), Tiada Belas Kasihan (1963), Buang Tonjam (1963), Malam Pengantin Di Bukut kera (1963), Dosa Kita Semua (1963), Nasehat Untuk Anakku (1963), Dan lain – lain.

           
v  Rosihan Menulis Roman
Pada zaman Manipol mendapat cobaan tuhan dalam menghadapi tipu – muslihat kaum komunis, halmana disebabkan terutama oleh perpecahan diantara golongan – golongan Islam Indonesia sendiri, maka timbul ingatan pada Rosihan untuk menulis roman sejarah Raja kecil ( jakarta, 1967 ). Dalam roman sejarah pertama yang ditulis Rosihan ini, terasa halus dikemukakannya masalah perpecahan diantara suku bangsa nusantara dalam menghadapi belanda.

v  Permasalahan Islam Dalam Roman Indonesia
Dalam romanya Kemarau ( bukittinggi – Jakarta 1967 ) thema itu dikemukakan Nafis pula. Sekarang bukan tentang seorang penunggu surau yang bunuh diri karena di sindir hanya mendo’a dan berzikir melulu, melainkan tentang usaha seseorang manusia yang hendak mengubah mental penduduk sebuah kampung yang konon memeluk agama islam. Orang itu, Sultan Duano namanya, seorang pendatang kampung yang terletak di pinggir danau, terkenal sebagai seorang soleh dan suka bekerja keras. Ia mempelajari agama Islam tidak secara tradisional. Ia mempelajari Islam dengan pengertian. ( adalah menarik bahwa Navis secara tandas menyebutkan bahwa tokohnya itu mempelajari al –Qur’an via tafsir suedewo dalam bahasa belanda ! ). Ia menolak orang – orang yang taklid – buta.

v  Perlu Peningkatan Penelitian Sastra Indonesia
Sampai sekarang penelaahan sastra dengan memperhatikan latarbelakang kehidupan sosialnya, boleh dikatakan sedikit sekali dilakukan orang Indonesia. Sastra Indonesia dianggap oleh kebanyakan para penelaah sastra sebagai sesuatu yang terlepas dari kehidupan sosial, padahal kelahiran sastra bahasa Indonesia adalah hasil proses pengembangan sosialnya, yaitu sebagai akibat logis dari suatu peristiwa besar dalam kehidupan manusia Indonesia secara keseluruhan setelah bertemu dan berkonfrontasi dengan kehidupan kebudayaan Eropa.